SOLO TRAVELLER DI JAWA TIMUR
Assalamualaikum..Salam Lestarii !!!
Ini adalah cerita pengalaman liburan saya di
jawatimur, yah sesuai dengan judulnya solo traveller di jawatimur, di dalam
artikel ini saya akan menceritakan pengalaman saya berlibur dan mendaki gunung
seorang diri hehe yah itu dinamakan solo travellers atau solo tracking, mungkin
teman-teman yang memiliki hoby travelling tidak asing dengan istilah ini.
PROBOLINGGO “KOTA SANTRI”
Probolinggo adalah salah satu kota yang berada di
jawa timur dengan julukan kota santri atau kota seribu taman, ya probolinggo
adalah salah satu tampat pilihan liburan saya, karena kebetulan di kota
tersebut banyak sanak saudara dari bapak saya, lumayan mengurangi baged
penginapan dan makan hehe maklum cuman bermodalkan biaya paspasan wkwk.
Saya pergi ke probolinggo kebetulan juga dapat hadiah
tiket geratis dari bapak saya karena bertepatan dengan hari ulang tahun saya
yang ke 22 tahun, bermodalkan duit paspasan tentunya saya harus menyusun
perencanaan ini mateng-mateng, dimulai dari transportasi, makan, serta
penginapan yah antisipasi untuk menghemat dana, saya selalu membawa tenda doom
pada tas kerhier saya dan juga perlengkapan camping lainnya seperti kompor dan
nasting.
Saya berangkat dari samarinda menuju balikpapan
menggunakan jalan darat, menempuh waktu 3 jam untuk bisa sampai bandara sepinggan
balikpapan, kemudian dari balikpapan menuju surabaya menggunakan jalur udara
memakan waktu 1 setengah jam, menurut saya ini adalah perjalanan yang sangat
menyenangkan walaupun sendirian hehehe dan kemudian melanjutkan perjalanan
menuju probolinggo menggunakan bus DAMRI.
Memakan waktu yg cukup lama untuk sampai ketempat om slamet (beliau adalah adik dari bapak saya), walaupun begitu 3 jam perjalanan tidak terasa karena indahnya pemandangan kota probolinggo. Setelah sampai saya memutuskan untuk langsung istirahat.
*(alun-alun probolinggo kraksaan)
DESTINASI
1 : GUNUNG BROMO
Suara ayam terdengar merdu di setiap karangan rumah
menyambut pagi dengan semangat, masyarakat jawa terkenal dengan keramahannya
begitupula om slamet beserta istrinya tante niel (panggilan akrap ku)
menyiapkan gorengan serta kopi panas di atas meja makan keluarga.
Setelah mandi dan packing saya pun izin pamit dengan
om slamet juga tante niel menuju gunung bromo, tak disangka om slamet
memberikan uang saku perjalanan untuk saya, lumayan buat nambah-nambah duit
jajan hehehe ini nih enaknya klo punya banyak saudara di kota yang berbeda, perjalanan dimulai dari rumah om slamet menuju terminal probolinggo menggunakan kool (sebutan
anggkutan umum di probolinggo). Untuk bisa sampai terminal probolinggo hanya menempuh
waktu setengah jam perjalanan dan hanya membayar 10rb cukup murah bukan.
Sesampainya
di terminal kita harus mengambil mobil khusus jurusan bromo, nah serunya travelling
adalah berkenalan dengan berbagai macam orang dan berbagai macam karakter,
didalam mobil saya banyak berkenalan dengan turis lokal maupun turis
mancanegara, ada yang dari bandung 1 orang, bali 4 orang, dan juga australia 6
orang, kami langsung begitu akrap setelah naik kedalam mobil, entah kenapa kita
saling memperkenalkan nama dan asal masing-masing mungkin ini karena satu hoby
jadi langsung bisa akrab hehe.
Tepat duduk di sebelah saya dia bernama Adhiyasa
gatra asal dari bandung, dia seorang fotografer, sama seperti saya dia juga solo
travellers, didalam mobil kami begitu akrab begitu juga dengan yang lainnya,
nyanyian dan canda tawa menemani perjalanan kami menuju gunung bromo,
disepanjang perjalanan kita bisa melihat pemandangan yang sangat indah dengan
suhu udara yang semakin dingin, tracknya pun juga sangat ekstrim kanan kiri
jalan adalah jurang bahkan jalanan yg sangat sempit dengan tikungan tajam yang
banyak sekali, untung saja supir yang membawa kami sudah sangat terbiasa dengan
medan tersebut.
Setibanya di desa tengger tempat pemberhentian
terakhir bagi kendaraan bermobil, kami langsung ditunjukkan oleh supir salah satu
penginapan yang paling murah di daerah tersebut, satu kamar Rp.150rb dengan
fasilitas yang lumayan lengkap, nah kebetulan sekali saya dan gatra menyepakati
satu kamar untuk menghemat biaya, walaupun baru kenal tapi kami sudah sangat
akrab sekali, mungkin karena dia orang sunda kali yah jadi ramah hahaha. Begitu juga
dengan teman yg dari bali, mereka menginap satu penginapan dengan kami, banyak
sekali cerita yang saling kita bagikan di dalam penginapan.
Tak jelang beberapa waktu kami mendapatkan informasi
bahwa besok tagal 20-21 juli adalah hari raya KASADA bagi
masyarakat tengger, karna sebagian besar masyarakat tengger adalah penganut
agama hindu.
Oke saya akan sedikit memberi tahu mengenai hari KASADA yang saya ketahui :
Hari raya yadya kasada adalah sebuah hari upacara
sesembahan berupa sasajen kepada sang Hyang Widhi, setiap bulan Kasada hari-14
dalam penanggalan jawa diadakan
upacara sesembahan atau sasajen untuk sang Hyang Widhi dan para leluhur, pada
saat itu juga kami sepakat merubah jadwal untuk menyaksikan upacara tersebut.
Keesokan harinya, kami bangun pagi-pagi buta untuk
melihat sunrice dan berkeliling di pasar bromo untuk mencari perlengkapan yang
kami butuhkan selama berada di bromo, udara yang sangat dingin memaksa kami
untuk menggunakan jaket setebal mungkin agar titak menembus kekulit tipis kami
hehe. Setelah puas berkeliling pasar kami melanjudkan perjalanan menuju pura Luhur
Poten Bromo menggunakan ojek dengan biaya perorang PP 75rb, sebenarnya bisa menggunakan jeep tapi harganya
cukup mahal dan kami tidak mampu hiikksss.
Selama perjalanan, kami melewati lautan pasir yang
sangat luas, debu-debu beterbangan dimana mana membuat kami sangat susah untuk
bernafas dan melihat, dari kejauhan sudah terdengar alunan musik khas jawa
menandakan upacara besar KASADA akan segera dimulai. Motorpun melaju kencang
seakan akan ingin cepat sampai agar kami tidak terlambat untuk melihat upacara
tersebut, sebuah pelayanan yang sangat baik wkwk
*(padang pasir)
*(Adhiyasa gatra teman
perjalanan)
Setelah sampai di pura Luhur Poten Bromo, banyak sekali masyarakat tengger yang sudah berkumpul di pura dengan membawa hasil panen untuk dijadikan sasajen, sesuai semboyan bangsa indonesia Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda tetap satu jua), walau berbeda agama dan keyakinan kita tetap harus menghargai kebudaayaan dan agama setempat.
Sangat indah prosesi sakral upacara Kasada di dalam pura, setelah upacara di dalam pura selesai, masyarakat mulai berbondong-bondong mendaki gunung bromo menuju kawah untuk melemparkan sasajen yg mereka bawa kedalam kawah.
*(prosesi pembacaan doa
untuk sasajen)
*(pura Luhur Poten Bromo)
Ada hal yang sangat menarik ketika sampai diatas
kawah, banyak sekali masyarakat madura ataupun orang tengger sendiri, yang siap
mengambil sasajen yang di lempar dari atas kawah, sebenarnya sangat berbahaya karena
mereka turun jauh ke bawah kawah.
Dengan sigap mereka menanggkap sasajen yg dilempar warga dari atas menggunakan sengget yang di buat dari karung besar, bahkan ada juga yang melemparkan uang kedalam kawah, kegiatan tersebut sudah menjadi hal yang biasa bagi masyarakat tengger.
Dengan sigap mereka menanggkap sasajen yg dilempar warga dari atas menggunakan sengget yang di buat dari karung besar, bahkan ada juga yang melemparkan uang kedalam kawah, kegiatan tersebut sudah menjadi hal yang biasa bagi masyarakat tengger.
*(Kegiatan
masyarakat yang mengambil sasajen dari bawah)
Semua prosesi upacara pun telah selesai, kami memutuskan untuk kembali kepenginapan, dengan penuh kesetiaan abang tukang ojek tetap menunggu kita untuk balik pulang, setiba sampai di penginapan kamipun bergegas untuk mandi, makan dan istirahat.
Tepat jam 19.00 sayapun
terbangun dengan kondisi perut keroncongan, ternyata teman-teman yang lain
sudah terbangun dan asik ngobrol di ruang tamu dengan kopi panas juga biskuit
yang sudah di sediakan oleh penginapan, mungkin karena kecapean jadi saya bangunnya
belakangan wkwkwk, saat itu hujan turun
lebat padahal kita berniat melihat prosesi pelemparan hewan ternak kedalam
kawah bromo pada malam hari, sehingga kami memutuskan untuk tidak menyaksikan
upacara tersebut.
Memang prosesi upacara
memakan waktu hingga 2 hari lamanya, tetapi walaupun hujan deras masyarakat
tengger tetap melaksanakan prosesi upacara tersebut dengan menggunakan pakaian
putih-putih, tanpa menggunakan jaket,.gak
kebayang gimana rasa dinginnya..sedangkan kita sudah menggunakan jaket
tebal tapi masih terasa sangat dingin. Itu adalah wujud terimakasih mereka
terhadap Sang Hyang Widhi, hebat banget masyarakat tenger..
Setelah hujan selesai, saya dan gatra beserta teman-teman dari bali denpasar kita sepakat mencari
makan malam bersama, bayangkan aja gimana nikmatnya makan soto di saat cuaca
dingin, maknyuusss
Ini adalah malam
terakhir kami di bromo, tidak ingin diam begitu saja kamipun mencari informasi
apakah ada acara lain selain di kawah bromo, ternyata warga setempat memberi
tahu bahwa di desa sebelah ada festival tari daerah, tidak berpikir panjang
kamipun langsung menuju desa sebelah menggunakan truk angkut sayur warga, lumayan
dapat gratisan lagi wkwkwk, Sesampainya di desa sebelah banyak sekali warga yang
menyaksikan festifal dari berbagai kalangan, tua maupun muda ikut menyaksikan
festival tersebut.
Berbagai macam alat
musik dan tarianpun menemani malam terakhir kita di bromo, ini pengalaman
pertama saya di bromo yang tidak bisa dilupakan, dengan teman-teman baru yang
sangat baik hadir diperjalanan ku, tepat
jam 12 malam sedikit demi sedikit warga mulai meninggalkan tempat acara
menandakan telah berakhirnya festival tersebut.
Kamipun juga bergegas
untuk kembali balik kepenginapan, rezeki anak sholeh memang tidak pernah
kemana, lagi-lagi kita mendapat tumpangan dari warga setempat menuju ke
penginapan.
Keesokan harinya
perjalanan kami di bromo telah selesai, kamipun berpisah melanjutkan perjalanan
kita masing-masing, begitu juga dengan gatra dia melanjutkan perjalanan balik
kemalang, yang ku ingat dia melanjutkan studinya di salahsatu universitas di
malang, kamipun bertukar id instagram agar tetap bisaa berkomunikasi.
Walaupun petemuan kami
sangat singkat tapi pengalaman bersama mereka tidak pernah terlupakan
sampaikapanpu, semoga alam mempertemukan kami kembali di lain waktu.
Sayapun melanjutkan
perjalanan saya ke salahsatu Taman Nasional yang berada di probolinggo, jangan
lupa baca link selanjutnya AIR TERJUN TERINDAH DI INDONESIA
Terimakasih sudah
membaca perjalanan saya, masih banyak perjalanan seru saya selama berada di
jawa timur, nantikan kelanjutan cerita saya di destinasi-destinasi selanjutnya,
tetap lestarikan alam indonesia ini yah..Agar anak cucu kita dapat menikmati
keindahan alam ini..
Jangan lupa share dan komen dibawah yaaa :*
salam lestarii !!!







Semerdu itu kah suara ayam di jawa hingga membuat semangat?
ReplyDeleteMerdu lagi suara ayam Sulawesi wkwkw
Deletekeren, salam lestari bang!!
ReplyDelete